Sigi – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Suka Maju menggelar pertemuan teknis bersama petani, penyuluh pertanian, dan pemangku kepentingan terkait di Desa Watunonju, Kecamatan Sigi Kota, Kabupaten Sigi, Senin (25/5/2026). Pertemuan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WITA tersebut membahas berbagai tantangan yang dihadapi petani serta langkah-langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas usaha tani padi di wilayah setempat.

Dalam pertemuan tersebut, seluruh peserta sepakat bahwa kelompok tani perlu secara rutin melaksanakan pertemuan kelompok sebagai sarana koordinasi, evaluasi, dan penyelesaian berbagai permasalahan yang dihadapi petani di lapangan. Selain itu, intensitas koordinasi antara Gapoktan dan berbagai pihak terkait juga perlu ditingkatkan guna mempercepat penanganan berbagai persoalan yang memengaruhi produktivitas pertanian.

Salah satu aspirasi yang mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah harapan petani agar memperoleh dukungan subsidi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sigi sebagai upaya mitigasi risiko gagal panen. Sementara bagi petani yang belum mendapatkan subsidi AUTP, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sigi Kota mendorong untuk mengikuti program AUTP secara mandiri dengan pendampingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

Selain itu, petani juga mengharapkan bantuan benih yang disalurkan pemerintah berasal dari varietas unggul yang tahan terhadap serangan penyakit serta sesuai dengan kondisi agroklimat wilayah Desa Watunonju sehingga dapat mendukung peningkatan hasil produksi.

Dalam pembahasan teknis, serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tikus menjadi salah satu isu utama yang dinilai sangat berdampak terhadap penurunan produksi padi di Desa Watunonju. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, disepakati pelaksanaan Gerakan Pengendalian OPT Tikus secara serentak (gropyokan) yang direncanakan dilaksanakan pada minggu depan dengan melibatkan seluruh petani di wilayah terdampak.

Kegiatan pengendalian tersebut akan didampingi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Sementara kebutuhan bahan pengendali berupa pestisida akan mendapat dukungan dari UPT Proteksi Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam menekan populasi tikus yang telah mengancam pertanaman padi petani.

Peserta pertemuan juga menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian tikus sangat dipengaruhi oleh penerapan pola tanam serempak dalam satu hamparan. Namun demikian, pelaksanaan pola tanam serempak masih menghadapi kendala berupa terbatasnya debit air dari jaringan Irigasi Wuno yang belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh areal persawahan secara optimal.

Terkait kondisi tersebut, petani mengusulkan perlunya perbaikan jaringan irigasi melalui koordinasi dengan instansi terkait. Selain itu, turut dibahas wacana penambahan pasokan air dengan pembangunan saluran dari wilayah Kecamatan Palolo guna meningkatkan ketersediaan air bagi lahan pertanian di Desa Watunonju.

Petani juga berharap informasi mengenai jadwal buka dan tutup irigasi dapat disampaikan lebih awal kepada kelompok tani agar petani dapat menyusun rencana tanam secara tepat dan menyesuaikan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhan tanaman.

Melalui pertemuan teknis ini, seluruh peserta sepakat bahwa petani perlu memperhatikan rekomendasi jadwal tanam yang telah ditetapkan untuk meminimalkan risiko akibat dampak perubahan iklim maupun serangan organisme pengganggu tumbuhan. Dengan sinergi yang kuat antara petani, penyuluh, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, diharapkan produktivitas pertanian di Desa Watunonju dapat terus meningkat serta mendukung upaya mewujudkan ketahanan pangan daerah.